Responsive Ad Slot

Latest

latest

Kota Tua di Indonesia vs Malaysia

2011/10/01

/ by Folknesia
Dok. ZC-SECRET

pengunjung berdoa di Kuil Ular, kemarin. Kuil yang dibangun pada 1850 ini salah satu objek wisata andalan Malaysia.
Kota tua? Apa menariknya? Kecuali bangunan tua yang kusam dan dipenuhi burung walet atau kelelawar. Tapi, kesan itu pupus ketika menjelajahi Kota Penang atau Pulau Pinang.
Negeri kedua Malaysia setelah Kuala Lumpur dengan jumlah penduduk lebih dari 1,5 juta jiwa ini menawarkan beragam destinasi mulai sejarah, kuliner, dan alam. Kota Penang diambil dari kata “Pulo Pi-naom”. Kawasan ini sudah lama menjadi tujuan para pedagang sejak masa kolonial Inggris. Tak sedikit di antara mereka kemudian menetap dan beranak-pinak di kawasan yang penuh toleransi dan bersih ini.Penduduk kota ini sangat multietnis dengan etnis terbesar China (42 persen), Melayu (41 persen), dan India (9 persen). 
Namun, mereka bisa hidup berdampingan dan harmonis. “Penang adalah kota sejarah yang banyak dikunjungi beragam wisatawan luar negeri. Mereka datang selain untuk bernostalgia juga mengenang para leluhurnya yang meninggal di kota ini,” ujar Manajer Visit Indonesia Tourism Officer, Shafie Obet. Di kota ini beragam bangunan tua bekas peninggalan kolonial Inggris (1750) bisa dijumpai. Gedung-gedung dan rumah tua yang dulunya kusam dan lapuk dimakan usia kini disulap menjadi sebuah kota yang menakjubkan.
Bangunan- bangunan tua di jantung kota ini masih dipertahankan sesuai aslinya. Sebut saja Masjid Keling Kapitan yang dibangun pada abad ke-19, Snake Temple (Kuil Ular) yang dibangun pada 1850,Gereja St Goerge (1817-1818), dan Benteng Fort Cornwallis. Bangunan tersebut masih berdiri kokoh dan kini menjadi wisata sejarah yang cukup menarik. Keberadaan bangunanbangunan tua di kota ini juga diakui UNESCO dan menetapkannya sebagai world heritage. Destinasi wisata di kota ini memang dikelola dengan baik oleh Pemerintah Malaysia. Tidak salah bila kawasan ini menjadi tujuan wisata penting bagi para pelancong luar negeri. 
Berkaca dari Penang, Indonesia sebenarnya memiliki lebih banyak destinasi yang bisa ditawarkan untuk tujuan wisata yang menarik bagi para wisatawan asing.Berbagai upaya menggenjot kedatangan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia terus dilakukan Kemenbudpar. Salah satunya dengan kegiatan sales missionyang baru diadakan di Penang,Ipoh,dan Kinabalu, Malaysia selama lima hari pada 25–30 September. 
Direktur Promosi Luar Negeri Kemenbudpar Noviendi Makalam mengatakan, daya tarik wisata di Indonesia tidak ada batasnya mulai wisata sejarah, budaya, kuliner,dan keindahan alam. “Dibandingkan dengan negara-negara tetangga, kita jauh lebih kaya. Tinggal bagaimana kita mau mengemasnya dengan baik,” katanya.  Menurut dia, kendala yang masih dihadapi dalam pengembangan destinasi wisata adalah sarana infrastruktur dan aksesibilitas transportasi yang belum menunjang di beberapa daerah.
Selain itu, lamanya pelayanan keimigrasian di bandara juga dianggap menghambat minat kedatangan wisman di Tanah Air. “Semestinya banyak pintu masuk yang siap menerima mereka.Kalau bicara pintu masuk kita bicara masalah airport-nya, sarana transportasinya,” ujarnya.

No comments

Don't Miss
Folknesia 2020 © all rights reserved
made with