Responsive Ad Slot

Latest

latest

Terpana Senyum Simpul

2011/08/23

/ by Folknesia


**
“Mana nilaimu?” tanya Ken pada Hae teman sebangkunya.
“Ni nilaiku. Gak bagus gimana, paling tinggi neh”, lanjut Ken setelah lihat kertas koreksian ujian Ardi yang menunjukkan angka lebih rendah darinya.
“Ya wajarlah. Masa bintang kelas dapat nilai abal-abal”, balas Ardi dengan nada agak mengejek. Ardi merasa heran, tumben bangat dia begitu girangnya siang itu.
Ken siang itu hatinya begitu sumringah. Kenapa tidak, nilai ulangan Cawunya mendapat nilai tertinggi di kelas. Meski bukan kali itu ia mendapat nilai bagus, tapi entah kenapa saat itu ia sangat bangga memperlihatkan hasil koreksian ulangan pada teman-teman sekelasnya. Tak puas dengan tanggapan Ardi, Ken melaju ke deretan meja sebelahnya. Satu persatu ia tunjukkan kertas ujian itu pada teman-temannya. Tak ubahnya seorang guru sedang membagi lembar-lembar isian jawaban Unas. Teman-temannya pun menjawab sekenanya karena sudah tak merasa heran dengan nilai yang ia dapatkan pada setiap ulangan.

Di depan pintu masuk kelas, Ken menunjukkan wajah ceria penuh bangga. Pantas saja lesung di kedua pipinya terlihat berbaris dengan gigi-gigi putih bersinar meski lampu-lampu sudah tak menyala. Tak urung lesung pipi dan barisan gigi putih itu membuat silau kedua cewek yang sedang bersandar depan pintu masuk ruang kelas depan. Ken dan kedua cewek itu pun saling berpandangan beberapa menit meski mereka hanya berjarak 3 meter di antara lalu lalang siswa yang ingin segera pulang. Setelah puas saling bertatapan, Ken hadap kiri mengarahkan langkah kakinya ke arah asrama sekolah yang hanya berjarak beberapa meter dari kelasnya. Tampak jelas salah seorang cewek tadi belum puas menatap wajah sumringah Ken, namun ia berlalu begitu saja tanpa menyapa.

Menginjak akhir Cawu pertama Ken tinggal di asrama sekolah, setelah setahun terakhir tinggal di tempat saudaranya yang lumayan jauh dari sekolah. Selain tidak merepotkan karena harus bolak-balik sekolah dan les tambahan menghadapi Unas, juga karena ia punya teman dekat dan juga sebangku yang tinggal di asrama sekolah. Dialah Hae.

Dalam perjalanan pulang dan sesampainya di kamar pun dalam pikiran Ken masih terngiang tingkah kedua cewek tadi. Yang satunya Ken kenal dan tak lain adalah Ani, adik kelasnya. Dia salah satu siswi yang tinggal di asrama sekolah. Yang satunya lagi jangankan kenal, melihatnya pun baru kali itu. Wajar memang, meski ia termasuk bintang kelas dan bintang sekolah, dibanding teman-temannya ia tergolong kuper kalau soal bergaul. Sebenarnya terlalu ekstrim kalau dibilang kuper. Nyatanya Ken punya banyak teman, terutama teman seangkatan. Hanya saja ia tidak banyak bergaul dengan adik-adik kelas, kecuali Malik, anak kelas dua.

Entah kenapa, Malik tergila-gila pada Emy meski Emy sendiri sudah punya pacar. Idham namanya. Anak kelas 3 IPA. Kalau boleh jujur, Emy kurang menarik untuk seorang cowok. Tapi Malik begitu tergila-gila padanya. Yah, itulah cinta. Ia hinggap dan berlalu begitu saja. Bahkan tanpa sebab.
“Ada salam dari Yeni” sapa Ani di lorong asrama depan kamar. Suara itu menghentikan kaki Ken yang terburu-buru ke kamar kecil di sisi lain lorong asrama.
“Yeni?” jawab Ken penuh tanya. Meski pandangannya ke arah Ani, bola mata Ken menerawang entah kemana. Oo Yeni ya nama cewek itu, pekiknya dalam hati.
“Yeni yang mana?” lanjut Ken berharap ada penjelasan lebih lanjut.
“Itu lo, yang tadi ngeliatin kamu. Katanya dia terpesona dengan senyumanmu” jawab Ani seolah tak menghiraukan rasa yang berkecamuk dalam hati Ken.
“Oo.. Wa’alaikum salam” balas Ken sekenanya karena memang kata-kata itu yang dia harapkan dari Ani. Langkah Ken pun melaju ke arah kamar kecil, sementara Ani mengeluarkan suara batuk, suara batuk khas untuk mengejek seseorang yang sedang kasmaran.


**
Asrama sekolah itu ada tiga blok. Ken dan Hae bersama tiga teman sekamarnya berada di blok B. Sebenarnya, dilihat dari struktur bangunannya, ketiga blok asrama ini dirancang sesuai dengan kebutuhan penghuninya. Blok A untuk guru-guru yang belum memiliki rumah sendiri, Blok B untuk asrama putri sementara Blok C untuk asrama putra. Uniknya, mungkin sudah sejak lama para penghuni tiap blok selalu dicampur antara guru, cewek dan cowok meski dengan kamar masing-masing. Sebut saja kamar Ken yang berhadapan langsung dengan kamar Nia dan tiga teman cewek lainnya. Tak heran, penghuni cowok masih bisa keluar masuk kamar cewek asal yang punya kamar sedang tidak “sibuk” dan tidak keberatan. Begitupun sebaliknya.

“Heih…” pekik Ken kaget tiba-tiba disambut Ani dan Yeni di pintu kamarnya lengkap dengan seragam sekolah. Sambil melipat tangan di dada untuk menutupi, Ken melaju dengan langkah sigap meski agak mendorong kedua cewek itu.
“Ngapain pagi-pagi di kamar saya” lanjut Ken setelah berhasil menguasai pintu. Ketiga teman sekamarnya yang masih terlihat malas di tempat tidur senyam senyum dan ketawa cekikikan melihat tingkah Ken.
“Idih… ada cewek yang nyamperin kok galak sih” suara Yudi teman sekamarnya menggoda.
“Iya nih… Yeni jauh-jauh nyamperin kok malah gitu sih” balas Ani sinis.
Dengan senyum simpul dan kepala manggut-manggut Ken minta ijin pada Yeni sebelum bisa bertemu. Sambil menutup pintu pelan-pelan, tangan Ken melambai lembut meminta restu.


**
Satu.. dua.. tiga… ya, tiga hari sudah berlalu peristiwa siang itu. Peristiwa yang mengawali karir cinta Ken. Tak seperti biasanya. Matahari terasa melambat merayap dari ufuk timur ke ufuk barat. Tiga hari bagaikan tiga bulan. Tiga hari yang meresahkan. Tidur tidak nyeyak, makan pun gak enak. Berbaring, terlentang, berdiri lagi. Untung Hae malam itu sedang Wakuncar alias malming. Tiga teman lainnya sedang pulang kampung di salah satu kecamatan yang berada di atas dan di antara gunung-gunung sebelah timur kota.

Malam makin larut. Jam dinding menunjukkan angka 12 lewat 15 menit. Itu artinya tak lebih dari lima jam lagi Ken hanya bisa menikmati mimpi malam itu. Tapi, apa ia malam itu Ken bisa bermimpi? Mimpi yang indah? Jangan harap. Gimana bisa bermimpi sedang mata masih melek. Paling banter juga jam 10 biasanya Ken sudah tidur. Itu pun klo Hae dan teman-teman sekamar mengajaknya bercanda. Ngomong ngalur ngidul gak jelas arahnya. Itu pun hanya sekali. Paling-paling Ken begadang hingga jam 10 malam. Biasanya karena esok hari ujian. Meski sudah belajar jauh-jauh hari sebelumnya, Ken merasa belum mantap menyambut pagi jika belum belajar malam. Apalagi ada ujian. Tak heran ia dijuluki bintang kelas. Selalu berada di rangking pertama sejak kelas satu.

“Aku harus tidur” batin Ken meyakinkan kalau malam itu ia harus segera tidur. Jika tidak ingin besok bangun dengan mata lebam biru tanda kurang tidur. Itu gawat buat Ken. Bisa-bisa ia terlihat kurang menarik di mata Yeni dengan tatapan mata lebam biru kaya itu. Bukankah penampilan mencerminkan kepribadian? Atau paling tidak seperti kata teman-temannya, kalau mau ketemu pacar penampilan harus maksimal. Itu akan menentukan karir cinta ke depan. Lebih kurang seperti itulah kata-kata yang pernah Ken dengar dari teman-temannya yang sudah makan asam garam soal cinta.
Lebih parahnya kalau besok Ken bangun terlambat. Hal yang sangat tidak ia inginkan. Apalagi ini janjian sekaligus jalan bareng pertamannya.

“Halo assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikum salam… ya dari mana ya? Mau bicara dengan siapa?” suara seorang pria yang terdengar seperti seorang bapak.

Ken mengingat kembali percakapan lewat telepon umum tadi selepas isya. Ken sengaja keluar halaman sekolah menuju telepon umum yang berada di sebelah kiri pagar sekolah. Apalagi kalau bukan untuk janjian ketemu. Wanita itu sudah membuat Ken resah tiga hari terakhir ini. Besoklah saat yang tepat untuk menghilangkan keresahan itu. Besok itu hari minggu. Lagipula masyarakat kota sudah terbiasa lari pagi di hari minggu keliling kota, dan akhirnya semua melangkahkan kaki terakhirnya di sebuah bukit tak jauh dari kota. Tempat itu adalah pemakaman raja-raja jaman dulu. Sampai sekarang biasa dijiarahi masyarakat kota. Tapi pemakaman itu lebih terkenal sebagai tempat akhir buat masyarakat kota yang lari di minggu pagi, sekedar istirahat, jalan-jalan, jajan-jajanan dan memandang keindahan kota di pagi hari. Tak jarang pemakaman itu menjadi tempat nongkrong anak muda, tempat jalan bareng pacar, tempat bertemunya orang-orang. Bahkan teman lama pun secara tak sengaja bisa bertemu di tempat itu.

“Dengan Ken, mau bicara dengan Yeni. Yeninya ada Om?”.
“Ken siapa ya..?” suara di ujung telepon itu pura-pura tidak mengenalnya.
“Ken teman sekolah Yeni om... Yeninya ada?” lanjut Ken tak sabar. Meski tersamar oleh saluran telepon, Ken sangat akrab dengan suara itu.
“Oo.. sebentar ya….”.

Meski yakin mengenali suara itu, kuping Ken masih menempel dengan gagang telepon. Ken juga yakin kalau orang yang mengangkat telepon itu hanya pura-pura bertanya tentang siapa dirinya. Begitu pun Ken, pura-pura berusaha menjelaskan. Jelas terdengar suara bapak itu memanggil Yeni. Tampaknya Yeni berada agak jauh dari ruang tamu tempat telepon itu berada.

“Halo dengan siapa..?”
“Saya Yen… Ken…” jawab Ken yakin karena suara yang menyapanya itu Yeni.
“Ooo kakak…”
“I..I..Iya nih, kakak” lanjut Ken agak gugup. Panggilan kakak itu untuk pertama kalinya ia dengar dari mulut Yeni.
“Lagi ngapain…?” Ken berusaha menutupi suara gugupnya.
“Lagi duduk santai aja depan rumah”
“Oo.. kirain sudah tidur” suara Ken berusaha tenang.
“Belum… inikan masih sore. Masa sudah tidur aja”.
“Ya kali aja…”.
“Yee… kakak kali jam seginian sudah tidur” balas Yeni.
“Kalau kakak sudah tidur gak bakal nelpon Yeni..”
“Hehee.. iya sih… kak bisa aja”.
“Ya gitu dech.. Oh yach, tadi Pak Mahmud ya?” tanya Ken meski yakin dengan tebakannya.
“Iya.. itu paman. Pak Mahmud. Kenapa kak?”.
“Ga sih, kak agak takut aja dengar suaranya. Hampir aja kakak gak telepon balik”.
“Lho kenapa…?”
“Tadi pertama telepon sih kak langsung kenal suaranya. Kakak langsung tutup aja. Tapi karena keinginan kakak belum terpenuhi, kakak telepon lagi”.
“Kakak ini ada-ada aja. Segitu aja takut” suara Yeni terdengar keras dengan ketawa mengakak lepas.
“Ih orang susah kok senang. Pake ketawa lagi” balas Ken tak mau kalah.
“Habis kakak lucu bangat sich. Pamankan orangnya baik. Kakak aja yang takut”
“Iya sich, kakak tau kalau pamanmu itu baik. Tapi tetap aja kakak gugup dengar suaranya. Apalagi beliaukan kenal kakak”.

Malam itu pertama kalinya Ken dan Yeni saling bicara. Saling bercanda pula. Meski hanya lewat telepon umum koinan. Keduanya terdengar akrab meski dibatasi jarak.

“Oh ya Yen, besok mau kemana?” Ken langsung pada tujuannya setelah memasukan koin seratusan sebelum pembicaraannya terputus sepihak.
“Mmm… gak kemana-mana. Emangnya kenapa kak?”
“Yaa.. kalau Yeni gak keberatan, kak mau ngajak lari pagi besok”.
“Oh iya, kebetulan besok Yeni juga pengen lari pagi. Tapi bingung mau ngajak siapa”, Yeni pura-pura memancing setelah beberapa detik terdiam.
Lebih tepatnya Ken gak tau apa maksud di balik pernyataan itu. Apalagi Yeni sempat diam beberapa detik baru lanjut bicara.
“Kan sekarang kak ngajak Yeni” jawab Ken polos.
“Ya udah. Ketemunya dimana kak?”.
“Ya.. biasanya sih orang-orang pada kumpul di makam raja”.
“Kebetulan Yeni juga sudah agak lama gak kesana. Katanya sih sekarang sudah rame. Yeni dengar juga tempatnya sudah diperbagus gitu”.
“Oke.. tapi gimana mengenalnya? Kak belum terlalu kenal wajah Yeni”.
“Besok kak mau pake baju apa?”.
“Ya kaoslah. Masa lari pagi pake jaket?” balas Ken polos.
“Yee.. bukan itu maksudnya. Maksud Yeni kakak pake kaos warna apa?”.
“Ooo… Kaos hitam aja”.
“Kalau Yeni pake baju warna merah ya kak”.
“Aku pake baju warna merah ya…” Ken mengulang kata-kata Yeni dan ia merubahnya agar mirip iklan sebuah produk shampoo di TV.

Yeni ketawa geli mendengar kata-kata yang akrab ia dengar itu. Ken apalagi. Ketawanya lebih nyaring. Untung saja tidak ada orang lain yang nunggu antrian memakai telepon umum itu. Pembicaraan pun berakhir setelah keduanya puas melepas tawa.

Ingatannya tersentak seketika. Tiga puluh menit berlalu. Tinggal sekitar empat jam waktu untuknya istirahat malam itu. Perlahan katup matanya tertutup. Benar-benar tertutup. Samar-samar saja terdengar suara jangkrik taman sebelah kamarnya. Suara jangkrik itu membawanya terlelap lebih dalam. Benar-benar terlelap. Hingga tidak sadar seutuhnya.

Bersambung....

Sumber

No comments

Don't Miss
Folknesia 2020 © all rights reserved
made with